Puisi - Catatan Djogja

Menuju kota wisata Djogjakarta,
Bermukim di Malioboro yang melegenda
Datang dari ibukota Djakarta,
Di stasiun Tugu berhentilah kereta,
Penumpangnya senyum sukacita
Kota tujuan didepan mata,
Sambutannya dengan gending jawa

Angkutan tradisional tawarkan jasa,
Pada tamu yang turun dari kereta
Dibukalah harga 5000 rupiah saja,
Cari penginapan dan belanja bakpia

Senyum ramah warga Djogja,
Sebagai hiasan diwajah mereka
Tunjukan keramahan ke kami semua,
Agar betah bersama mereka

Dijalan dagen jalan kedua,
Liwati Malioboro yang melegenda
Singgahlah kami di hotel ameera,
Suguhan "teh poci" langsung diterima

Nikmati suasana malam di Djogja,
Melangkah susuri jalan melegenda...
Malioboro kenangan suatu masa,
Tetap damai dengan aktivitasnya

Banyak pedagang jajakan dagangannya,
Mulai batik hingga asesoris lainnya
Kagum dan terpukau kami dibuatnya,
Warga nan rukun tenteram rasanya

Setiap langkah kaki serasa berirama,
Gejolak rasa selalu dipupus bersama
Keseharian selalu dengan canda dan tawa,
Nikmati hidup dengan lebih bermakna

Naik becak berhemat tenaga,
Nampak keraton di depan mata
Alun-alun kebanggaan kita semua,
Kotor dan rusak sampah dimana-mana

Tersayat hati melihatnya,
Melihat sesuatu warisan budaya
Selalu dibanggakan dan dipuja,
Terbengkalai, jorok memalukan Raja

Musium peninggalan para raja,
Tak jauh letaknya dari istana...
Kereta kencana tertata disana,
Hadiah penjajah hindia belanda

Pada semua kereta kencana,
Para abdi merawat dan menjaga
Sesaji nampak disekitar kereta,
Bentuk hormat keleluhur semata

Keindahan bangunan musium kereta,
Tak sebanding kemegahan kereta raja
Nampaklah kwalitas para rajanya,
Yang bertahta pada masanya

Satu kereta kencana di sana,
Dianggap sakral karena tua
Mengharap belaian sang raja,
Ketika datang bersama permaisurinya

Dibelai kasih sayang sang raja,
Bahagia terpancar nampak dari aura...
Para abdi melihat marah dibuatnya,
Karena rendah tingkat batinnya.



Share:

0 komen:

Total Pageviews

Labels

Teman Blog

Pengikut