Katanya: Derita itu aku. Dirinya cemas diterjah usia dalam kabus belasungkawa, dia tergigau hampir seminggu diancam lipan, angin dan debu yang sama. Desa bahagia, derita.
Sesudah demikian lama dicintai, sukarlah dilupakan. Inti pengalaman, kepedihan; akar kerinduan keresahan… Memang begitu banyak diperlukan kekuatan, kepangkalan batin, rakit ditambatkan bara kenangan dikuatkan .
Kita datang ini satu roh satu jasad, Bila pulang nanti bawa bakti padat berkat, Kita datang ini satu roh satu jasad Bila pulang nanti bawa bakti padat berkat .
ketika sekuntum salam yang gugur
kau sambutlah dari bicara alam
yang mewarnakan kemilau
pelanginya tetap berjalur pada 7 warna
jangan dikecai kelopak mawar itu
biarlah wanginya merata
kalau terapungnya di antara buih dan debur ombak
kau kutiplah menjadi sampan kehidupan
layarilah bersama alirnya perjalanan
yang takkan menggelupas
oleh setimba ujianNYA
Duhai DIA yang kubariskan aksara Rindu
di langitMU tetap tersusun perca-perca pengharapan
di bumiMU tetap bertaburan penyerahan
dan aku hanyalah pengembara yang menjerlus
pada titis-titis hujan yang mengalir
meredah alam
dan menggapai CintaNYA
yang bertubir di antara
embun yang meluruh
dan fosil cintaMU yang kudakap kemas
nanti tumitku jangan lagi berdarah
pada garingnya mentari yang memercikkan bara
aku tetap mengapung rindu
dari Qalam yang terindah
Semalam ku undur ingatan yang berseri, Kepada satu aksara di lorong nan sepi, Yang kita hiaskan dengan bebunga, Sentiasa harum menghiasi taman hati,
Susah senang menyusuri denai hidup ini, Kita lempar onak dan duri, Kita sisih ranjau biarpun melukai, Walau parah, kita ubati, Kita rawat, dengan kasih sayang nan indah, Yang tak pernah berubah...
Ada kalanya aksara indah ini, Mendamaikan gelora hati nurani, dan rasa ini kembali syahdu, pabila diimbau, kasihmu, yang menjadi teman tatkala membara rindu, Dan detik sepi itu sudah menjadi sejarah hidupku.
kau seperti biasa
setelah cerah tanah lewat silau menyimbah
sedang langit menguntum kuning
perut kau telah pun dialas
kerana kau punya satu tugas
yang sudah lama kau galas
demi zuriat kau yang berbelas
kau memang cekal dan lantang
jasad kau berperang
urat leher kau timbul, tegang dan mengerang
kau seperti memikul beban
tapi,
tapi wajahmu dibasahi air tenang
rasa seperti peri lelah kau terpercik
terpercik ke dalam anak mataku
namun kau tetap begitu
terpacak, terpaku dan menahan jasadmu
tubuh kau menapak dan menongkat
kadang helai-helai hijau itu terselak
silau cahaya bola besar
menikam tajam anak matamu
berpinar tapi kau tegar
kau dongak lagi
pedih sekejap.
tapi kau terus berjuang tanpa peduli
bahu kau pasang gagah
tangan kau genggam kemas
demi sesisip rezeki
demi perut-perut yang lapar
tiba-tiba seperti biasa
genggaman kau pecah
jari-jari tangan kau lemah
galah hinamu rebah
menyembah kalah
kau tidak sekali mengalah
kau bernafas dalam penat dan lelah
kini diri kau penuh lopak-lopak sejarah
sebati nan likat dalam daging dan darah
seorang ayah dan sebatang galah
Seorang Ayah dan Sebatang Galah
WAN MOHD ZUHDI BIN WAN ABD RAHMAN
zuhdi_islamiah@yahoo.com
Dalam mengutus puisi demi puisi Kehidupan hariku kian tandus Menakung hasrat mencari erti Mendamba kuntuman mekar kudus Menyingkir kosongan esok lusaku
Maksud bukan mahuku segalanya hanya kepastian bukan jangkaan semata
Mula langkahku ke pesisir pantai Ditemani gemawan dan pepasir dipijak Membelek kerikil disapu ombak Kepupusan siang aku berarah lain
Dihasut rasa di dalam hati Langkahku lajuseakan pasti
Kiambang itu dipinggir kali
Penciptaku Yang hina ini sepadu doa Agar ia tiada terus berenggang Izinkan aku mengikis jarak Walaupun tangan terikat mati Dekati kiambang yang kian layu Menghembus nyawa mengusir sayu
Bayu singgah tika ku usaha Jana bantu menepis lelah Putus asa bertempiaran digertak ikhlas
Tetapi Sekira takdir tidak menghulur restu Andai kiambangbukan untukku Ku redha bertaut pasrah cukup sekadar bertaut pasrah cukup sekadar telah ku jumpa Kiambang anggun yang dicita
Tika hening menghentak jiwa resah gerangan apa mengocak jenjam sukma menyendal tersumpal mengundang gundah mencengkam nadi membunga lara
tika hening menghentak jiwa resah ku harap biar alah diri ini membawa bungkam ke suatu arah yang tak kunjung tika pangkalnya kian menjauh tenggelam dek pandangan diselaputi kabus bergalas amanah memberat lalu memasung tangan menjangkau
kiranya aku sudah lama faham akan ditarik songsang rasa itu lalu ku kaut segala biar tersisip rapi hingga menjadi untaian sejarah nan tak terlepas ku pasak pada sudut paling diam dalam sukma diri bagai ukiran terpahat mati
Entah bila
kita bisa menemukan harga
sebuah puisi dalam gelembung dan gelodak jiwa
kerna kita tidak mampu membaca isyarat Pencipta
kita buta dalam celik sirna mata yang sempurna.
Entah bila
Kita bisa memaknai harga
sebuah puisi ketika kita galak menanggalkan
celana persaudaraan dengan keserakahan dan air mata
mengirim keluh kesah bersama darah di pekat jiwa.
Entah bila
Kita bisa mengakrabi harga
sebuah puisi kiranya fikiran onar berjelaga
di kelip-kelip waktu pada wajah penderitaan
lupa lukiskan cinta di langit senja bawa pulang kebahagiaan.
Entah bila
Kita bisa meletakkan harga
sebuah puisi tika jasad mula longlai dan lelah
hanya pada sepi kita berkawan mengunci diri memeluk rasa
berselimut luka dan sembunyikan sebilah belati di bilik hati.
Entah bila
Kita bisa mengenal harga
sebuah puisi andai maruah semurah koin kata
melacurkan kesetiaan kepada munafik berbulu serigala
dalam diam melahap membaham bahasa bunda tanpa rasa dosa.
Aku temukan harga puisi
bila kuziarahi negeri air mata.
Kucatat kepingan duka
dalam senyap jerih dingin jiwa.
Dalam air mata
ada gumpalan maruah dan harapan
yang kunamakan harga sebuah puisi .
Ya Allah , jika aku jatuh cinta lagi,
Cintakanlah aku pada seorang yg
Melabuhkan cintanya padamu,
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu,
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta lagi,
Jagalah cintaku padamu,
Ya Allah ,jika aku jatuh cinta lagi
Izinkanlah aku menyentuh hati sesaorang
Yang hatinya bertaut pada mu.
Agar tidak terjatuh aku dlm jurang cinta duniawi,
Ya Rabbana, jika aku jatuh cinta lagi,
Jagalah hatiku padanya agar tidak
Berpaling pada hati Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku jatuh cinta lagi,
Rindukanlah hatiku pada sesaorang yg
Merindui Syahid di jalan-Mu.
Ya Allah , jika aku jatuh cinta lagi,
Jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
Merindui Syurga -Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih -Mu
Janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya
Bermunajat di sepertiga mlm terakhir -Mu.
Ya Allah , jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu
Jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dlm
Perjalanan panjang menyeru manusia kpda -Mu
Ya Allah ,Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah
Berhimpun dlm cinta pada -Mu
Telah berjumpa pada ketaatan pada-Mu
Telah bersatu dlm dakwah pada-Mu
Telah berpadu dlm membela Syariat-Mu
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya,
Kekalkanlah cintanya,
Tunjukilah jalan-jalannya
Jalan yg di restui oleh Mu
Penuhilah hati-hati ini dgn Nur-Mu
Yang tiada pudar,malah sentiasa bersinar
Lapangkanlah dada-dada aku dgn limpahan
Keimanan dan kesabaran
Kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu
Kepada-Mu aku berserah segala yg tersurat dan tersirat
Bila aku mencintai yg lain,mungkinkah hati ini akan tegar.
Sebisa mungkin tak akan pernah sayangku akan hilang....
Padamu......Ya ALLAH Rabbul Jalil....
Pagi yang muram.
Ku telah ditemani oleh pelangi..
Ku lihat sejenak awan mendung berarak.
Mengapa bayangan mu masih ada di hatiku..
Ingin ku berlari meninggalkan memory ku.
Mengejar sesuatu yg belum pasti menjadi milikku.
Kata kata naif janji mu pegangan kita berdua..
Terlerai sudah di persimpangan perpisahan..
Maafkan diriku ini..
Andai aku bukan yg terbaik buatmu..
Ku tahu ku tak bisa menjadi seorang bidadari.
Ku tahu juga kamu bukan milikku..
Kerana hatiku telah terpateri menjadi hakiki insan lain..
Kerana kamu ..
Dingin malamku menjadi hangat..
Tiada lagi bintang di langit mampu ku petik.
Untuk ku dendangkan lagu yg tercipta..
Hadirmu sebagai suatu persinggahan sementara..
Menanti untuk di sakiti dan di tinggalkan..
Tiada guna air mataku..
Terus mengalir.
Harapan yang suci.
Menjadi kaku.
Jika ini ceriteranya,
Tidak mungkin aku menerima mu.
Dalam hidup ku.
Janji cintaku sampai syurga..
Abadiku bersama mu bidadari..
Tetapi adakah benar sampai ku bertanya,
Mengapa jiwa yang suci sering di sakiti..
Mungkin ini memang takdirku..
Mengharap mu mengetuk sanubariku..
Mengetuk benak diri nie tanpa di sedari..
Meninggalkan ku jua tanpa kerelaan hati..
Pergilah dikau dari jiwaku.,
Rindu ku padamu umpama bulan retak seribu..
Ku harap kau bertemu pengganti diriku ini..
Moga kau terus melupakan daku buat selama lamanya....
Hidup itu seperti WAP, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !!
Ketika Orang memuji MILIKKU
aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.
Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA ...
Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?
UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku.
Dan kalau bukan milikku,
apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?
Malahan ketika diminta kembali,
Kusebut itu MUSIBAH,
Kusebut itu UJIAN,
Kusebut itu PETAKA,
Kusebut itu apa saja ...
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA....
Ketika aku berdo'a,
kuminta titipan yang cocok dengan
KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,
Dan kutolak SAKIT,
Kutolak KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.
Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA,
harus berjalan seperti penyelesaian matematika
dan sesuai dengan kehendakku.
Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku ...
Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah Mitra Dagang ku
dan bukan sebagai Kekasih!
Kuminta DIA membalas perlakuan baikku
dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku ...
Duh ALLAH ...
Padahal setiap hari kuucapkan,
Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH ...
Mulai hari ini,
ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur
dalam setiap keadaan
dan menjadi bijaksana,
mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH ...
Sebab aku yakin
ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku ...
KEHENDAKMU adalah yang terBAIK bagiku ..
Ketika aku ingin hidup KAYA,
aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri
adalah sebuah KEKAYAAN.
Ketika aku berat untuk MEMBERI,
aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki
juga adalah PEMBERIAN.
Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT,
aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN,
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.
Ketika aku takut Rugi,
Aku lupa,
bahwa HIDUPKU adalah
sebuah KEBERUNTUNGAN,
kerana AnugerahNYA.
Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu BERSYUKUR kepadaNYA
Bukan karena hari ini INDAH
kita BAHAGIA.
Tetapi karena kita BAHAGIA,
maka hari ini menjadi INDAH.
Bukan karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS.
Tetapi karena kita optimis, RINTANGAN akan menjadi tak terasa.
Bukan karena MUDAH kita YAKIN BISA.
Tetapi karena kita YAKIN BISA.!
semuanya menjadi MUDAH.
Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM.
Tetapi karena kita TERSENYUM, maka semua menjadi BAIK,
Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.
Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar,
cukuplah menjadi JALAN SETAPAK yang dapat dilalui orang.
Bila kita tidak dapat menjadi matahari,
cukuplah menjadi LENTERA yang dapat menerangi sekitar kita.
Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang,
maka BERDOALAH untuk kebaikan
Memandangmu
Di rumah yang sangat sederhana
Terpana aku
Melihat kentalnya
Kamu meneniti ujian
Berat mata memandang
Berat lagi pundak memikul
Memandang
Raut wajahmu yang lesu
Suaramu jelas
Menceritakan
Hari-hari dalam hidupmu
Lenganmu yang luka
Serta kakimu
Bengkak kehitaman
Sesekali
Ku lihat airmatamu
Bergenang menahan sakit
Memandang
Usiamu yang muda
Seharusnya
Tempatmu di depan
Dalam medan perjuangan
Serentak dengan
Derap langkah
Menentang arus
Pembangunan nusa dan bangsa
Dan aku
Hanya bisa memandangmu
Dalam diamku
Dalam segala rasaku
Tanpa kata-kata
Beruntunglah kamu
Bunga yang disunting
Setia berada di sisi
Moga kekal hingga ke firdausi
Hujung waktu pertemuan
Ku rangkul tubuhmu
Yang kurus
Sambil ku bisikan
Dan maafkan aku
Kerana aku hanya mampu
Memandangmu
kubisikkan kau sesuatu perihal suara yang senyap malam pada telinga-telinga daun enggan gugur dan daripadanya, aku mengecup laut
bukan hari yang kau racik dalam pita tawa menyelamatkan duka dengan sehelai air mata sedang aku, adalah ribuan senja menawar lukaku dengan senyuman serta gelak tawa
Kau bencilah aku mendung di kepalaku tak serupa milikmu Kau bencilah aku kata-kataku tak selalu menuju pintu Kau bencilah aku anak-anak sungai yang mengalir di mataku tidak selalu tahu ke mana mereka kan menuju
bukan angan yang ku peluk ketika doaku tak lepas dari sajadah yang menjadikan nyata cinta bukan sekadar pertemuan dada yang tak berjarak adalah apa-apa yang kerap luput dari mata dan dengarlah aku dengan suara malam paling bisu ketika keikhlasan menjadikanku insan tabah yang kerap menahan jarum di dadaku namun cemasmu, mengikat langkahku yang tumpah menjadikan mati rasaku kian berkuasa
engkau kan menjelma serupa awan pada pelangi yang kulukis terang dan aku kan dengar bumi mengecup pekat tanpa suara, ku bahasakan duka dalam gambar beraksara yang melanjutkan fajar tertutup malam
Kau bencilah aku, sebab pada gerimis ke seribu hatiku tak juga layu Kau bencilah aku, pada ingatan yang tak mampu lagi mengingat sendu sedang aku menjahit cahaya di antara sujudku
maka Kau bencilah aku semaumu, untuk doa-doa yang menguatkan kakiku Laju, bukan pada makna bahagiamu ialah pada rahim kepercayaanNya segalaku bersimpuh
namun jangan kau pernah membenciku sebab aku menjadi bukan siapa-siapa, selain menjadi aku 26 March 2018
Ilham puisi ini terhasil daripada permintaan seorang kawan yang katanya meletakkan hati kepada seseorang. Namun perasaan malu menebal tidak mampu beliau lontarkan kepadanya. Kekal sampai saat ini memendamkan rasa walaupun acapkali berjumpa di persekitaran kerja. Bagi tidak menghampakan beliau saya ilhamkan puisi dengan menyelami apa yang dirasainya. Saya kongsikan di sini untuk tatapan
Haruskah
ku lontarkan suaraku
agar kau dengar isi hatiku
biar kau fahami
perasaan ku yang membara
Haruskah
aku dendangkan cintaku
Biar kau dengar suara hatiku
atau aku lukis rasa sayangku
Hingga dapat
kau lihat ketulusanku
Haruskah
ku tulis semua kerinduanku
bait-bait kata cinta
dan rintihan hati
Agar kau mengerti
Betapa aku menantimu
dalam setiap hela nafas
dan deraian airmata
yang mengalir di pipiku
Selembar doa
ku layangkan padamu
mengharap kau tetap di sampingku
menemani ruang lingkup hidupku
Meski aku tahu
Tak mampu aku memilikimu
Hanya nukilan guritan rasa
Ku aturkan segenap hasrat
Yang kupendam
dalam puncak asmara
Tidakkan hilang
dalam hitungan masa
Letih hati ini
merintih menahan lirih
sekeras usahaku mengingatimu
biarpun hanya bagai buih di lautan
sebagai bukti cintaku untukmu
Jika tuhan mngizinkan
Izinkan aku menyayangimu
dalam derai tawa
Dalam tangis air mata
Dalam cinta yang terpendam rahsia
Semalam,
Engkau dan gurumu senyum gembira,
Lalui hidup tanpa resah gelisah,
Tiap harimu ulang benda yang sama,
Tiap masamu penuh dengan cinta,
Membaca Kitab Mulia,
Menghafal Kalam Pencipta,
Mengamal Sunnah KekasihNya,
Makan dan tidurmu ditemani sinar cahaya,
Begitulah rutin harian mingguanmu.
Tiba masa engkau pulang ke desa,
Jumpa adik, kakak, ayah dan bonda,
Kalian kongsi banyak cerita,
Kalian gembira ramai kawan di sana,
Sempat kalian kata pada bonda,
"Tidak terbalas budimu, hanya ingin jadi tahfiz di usia muda,
pegang tangan menuju sama ke Syurga."
Anakku insan pilihan,
Bila mana kami sibuk dengan dunia,
Cari wang, pangkat dan kuasa,
Engkau setia segak berjubah putih, serban di kepala,
Tanganmu erat memegang mukjizat istimewa,
Bibirmu terucap bait-bait indah belaka.
Sungguh dikau pilihan terbaik, insan istimewa.
Semalam,
Kita tidak kenal dan tak pernah bersua,
Pagi tadi,
Kita bagai saudara dekat selalu bersama,
Tika mana kami lena dibuai mimpi,
Engkau bergelut diuji,
Menjerit pinta pertolongan,
Tapi sayang tangan kami tak sampai,
Alangkah berdosanya diri ini.
Sesungguhnya,
Hati ini sayu melihat potretmu itu,
Suci, bersih bersulam senyuman manis,
Hati ini menangis mengenangkanmu,
Pemergiaanmu ditangisi ramai manusia,
Hilanglah butir-butir permata dalam dunia,
Bumi dan langit pun seolah turut berdukacita,
Rebah si ibu, jatuh si ayah,
Kakak dan adik terkelu lidah,
Anakku yang dulu selalu bergurau,
Kini bermain di Syurga Ilahi..
Anakku,
Doa kami sentiasa iringi,
Satu perlu engkau tahu,
Pergimu amat dirindui,
Andai ada ruang di sana,
Pilihlah kami menjadi temanmu nanti,
Berehatlah, tidur dengan lena,
Damailah wahai anak Syurga.
Al-Fatihah.
Terdengar gemersik rawan irama lagu
Entah siapa gerangan berhati walang
Nak dipujuk curiga kan membumbung pilu
Andai lafaz tidak semanis gula
nanti mencetus kacau menambah gelora
Gerun kerliru kian lasat rintihan nan membusung
lara yang tiada terawat dek ikhtiar manusia
Ampuhkanlah jiwa nan meratap padanya
Hakikat hidup ini di bawah kudratnya
Hayat ini punya riwayat terpencil
Analogi yang menjadi kiasan dalam mencari makna
Tentang harkat warga diri
Insani yang terpasak kemelut yang runyam luput
Mewarnai lorong musafir di bumi fana ini
Untuk ditakwil lali ditafsir buat mengungkap rasa syukur
Tanyakan pada diri
Empunya siapa sekujur tubuh ?
Mungkin kan kembali tersenyum jiwa nan lara
Astaka rela mintalah terbangun
Nah ! tiba detiknya kian ulet berdepan rencam dunia hidup
Namun bukan semudah bicara lalui segala
Seberat mata memandang berat lagi sang bahu memikul
kau seperti biasa
setelah cerah tanah lewat silau menyimbah
sedang langit menguntum kuning
perut kau telah pun dialas
kerana kau punya satu tugas
yang sudah lama kau galas
demi zuriat kau yang berbelas
kau memang cekal dan lantang
jasad kau berperang
urat leher kau timbul, tegang dan mengerang
kau seperti memikul beban
tapi,
tapi wajahmu dibasahi air tenang
rasa seperti peri lelah kau terpercik
terpercik ke dalam anak mataku
namun kau tetap begitu
terpacak, terpaku dan menahan jasadmu
tubuh kau menapak dan menongkat
kadang helai-helai hijau itu terselak
silau cahaya bola besar
menikam tajam anak matamu
berpinar tapi kau tegar
kau dongak lagi
pedih sekejap.
tapi kau terus berjuang tanpa peduli
bahu kau pasang gagah
tangan kau genggam kemas
demi sesisip rezeki
demi perut-perut yang lapar
tiba-tiba seperti biasa
genggaman kau pecah
jari-jari tangan kau lemah
galah hinamu rebah
menyembah kalah
kau tidak sekali mengalah
kau bernafas dalam penat dan lelah
kini diri kau penuh lopak-lopak sejarah
sebati nan likat dalam daging dan darah
seorang ayah dan sebatang galah
Seorang Ayah dan Sebatang Galah
WAN MOHD ZUHDI BIN WAN ABD RAHMAN
zuhdi_islamiah@yahoo.com
Telah lama ku diam di sebalik aksara yang tersimpan
butir-butir kata jadi lerai
hanya bias ucap
kamar hati yang senyap
tanpa suara namun mataku berbicara
kalaulah kau bisa mengerti
pada suara yang tersusup di sini
Angsana yang merelai
tak sempat jemariku menadah
hanya renung dalam senyum yang terkumpul
elus semilir bayu
lembutnya menggugur juta gugus
ingatan yang tertunggak
dan kenangan yang tersimpul
Biarlah bibirku jadi bisu
di antara kehadiran kata-katamu
yang luruh di ujung suara
yang kau guruhkan
segenap ucapan
dan akan tetap kusimpan di perdu masa
setiap payal yang kau torehkan
di sini
Jatuh setitis di pelipis Lakrima ini ku kutip dari celah kata yang bergaris juntai ucap bibir yang terkedu
Aku tidak pernah menangis hanya titis jernih yang merelai berbingkai lembut di penjuru mata saljukah itu? Biarkan mutiara itu mengalir lembut membilangi wajah luka dari persada hidup dan ruang yang payal segenap sanggar
Siapakah yang bakal mengutip lalu menghimpun titis jernih ini dari lafaz hiba sejurai hati Seorang aku yang tertanggal dari segala reba senyum yang hlang dari ulas bibir
Menjadi kerongsang bersulam sendu berpanjangankah ia? melarik payah yang ngilu...
Lukis jea ... Teratai lagi
-
Lukis jea ... teratai , 'still water , silent beauty'
Allahu Akbar ... lamanya tak upload apa2 di blogku ini.
Hampir setahun rasanya.
Masih lagi me...
Bos Fendy
-
Khusiary Effendy bin Mahayuddin atau lebih di kenali di kalangan orang
seni sebagai Khusiary Mahayuddin atau BOSS FENDY. Beliau tidak asing lagi
dalam pe...
Selamat Hari Guru
-
★SELAMAT HARI GURU★
* untuk diri sendiri
Jadilah manusia yang baik
Tunjukkan contoh perilaku mulia
Kepada keluarga dan masyarakat
Jangan kerana harta dan pa...
letihhhh seletihnyaaa
-
haiii morningss uolsss... hari ni agak sedih jugak la sebab 90% pakaian aku
akan di bahagikan kepada yang memerlukan heikkheikkk.. haiyaa sapa soh
gemok k...
Sayang | Shae (Cover by Halim)
-
Assalamu'alaikum & selamat tahun baru 2013 semua :)
Hari ni ada mood sket nak cover sebuah lagu yang agak catchy & suwwweett,
'Sayang' nyanyian asal peny...