• Samad Said - Janda Setinggan

    Katanya: Derita itu aku. Dirinya cemas diterjah usia dalam kabus belasungkawa, dia tergigau hampir seminggu diancam lipan, angin dan debu yang sama. Desa bahagia, derita.

  • Samad Said - Nikmat

    Segala yang dihasrat, tapi tak didapat adalah nikmat yang paling padat.

  • Samad Said - Ombak

    Ombak yang menjamah kakiku sekali takkan dapat kukenali lagi..

  • Samad Said - Bahasa Terindah

    Sesudah demikian lama dicintai, sukarlah dilupakan. Inti pengalaman, kepedihan; akar kerinduan keresahan… Memang begitu banyak diperlukan kekuatan, kepangkalan batin, rakit ditambatkan bara kenangan dikuatkan .

  • Samad Said - Tetamu Senja

    Kita datang ini satu roh satu jasad, Bila pulang nanti bawa bakti padat berkat, Kita datang ini satu roh satu jasad Bila pulang nanti bawa bakti padat berkat .

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Puisi - Kelopak Itu


ketika sekuntum salam yang gugur
kau sambutlah dari bicara alam
yang mewarnakan kemilau
pelanginya tetap berjalur pada 7 warna

jangan dikecai kelopak mawar itu
biarlah wanginya merata
kalau terapungnya di antara buih dan debur ombak
kau kutiplah menjadi sampan kehidupan
layarilah bersama alirnya perjalanan
yang takkan menggelupas
oleh setimba ujianNYA

Duhai DIA yang kubariskan aksara Rindu
di langitMU tetap tersusun perca-perca pengharapan
di bumiMU tetap bertaburan penyerahan
dan aku hanyalah pengembara yang menjerlus
pada titis-titis hujan yang mengalir
meredah alam
dan menggapai CintaNYA
yang bertubir di antara
embun yang meluruh
dan fosil cintaMU yang kudakap kemas
nanti tumitku jangan lagi berdarah
pada garingnya mentari yang memercikkan bara

aku tetap mengapung rindu
dari Qalam yang terindah

Dyza Ainon


Share:

Puisi - Aksara Hidup


Semalam ku undur ingatan yang berseri,
Kepada satu aksara di lorong nan sepi,
Yang kita hiaskan dengan bebunga, 
Sentiasa harum menghiasi taman hati,

Susah senang
menyusuri denai hidup ini,
Kita lempar onak dan duri,
Kita sisih ranjau
biarpun melukai,
Walau parah, kita ubati,
Kita rawat,
dengan kasih sayang nan indah,
Yang tak pernah berubah...

Ada kalanya aksara indah ini,
Mendamaikan gelora hati nurani,
dan rasa ini kembali syahdu,
pabila diimbau, kasihmu,
yang menjadi teman
tatkala membara rindu,
Dan detik sepi itu
sudah menjadi sejarah hidupku.

Dasima Jan 2015


Share:

Puisi - Seorang Ayah Sebatang Galah


kau seperti biasa
setelah cerah tanah lewat silau menyimbah
sedang langit menguntum kuning
perut kau telah pun dialas

kerana kau punya satu tugas
yang sudah lama kau galas
demi zuriat kau yang berbelas

kau memang cekal dan lantang
jasad kau berperang
urat leher kau timbul, tegang dan mengerang
kau seperti memikul beban
tapi,
tapi wajahmu dibasahi air tenang

rasa seperti peri lelah kau terpercik
terpercik ke dalam anak mataku
namun kau tetap begitu
terpacak, terpaku dan menahan jasadmu
tubuh kau menapak dan menongkat
kadang helai-helai hijau itu terselak
silau cahaya bola besar
menikam tajam anak matamu
berpinar tapi kau tegar

kau dongak lagi
pedih sekejap.
tapi kau terus berjuang tanpa peduli
bahu kau pasang gagah
tangan kau genggam kemas
demi sesisip rezeki
demi perut-perut yang lapar

tiba-tiba seperti biasa
genggaman kau pecah
jari-jari tangan kau lemah
galah hinamu rebah
menyembah kalah
kau tidak sekali mengalah
kau bernafas dalam penat dan lelah
kini diri kau penuh lopak-lopak sejarah
sebati nan likat dalam daging dan darah
seorang ayah dan sebatang galah

Seorang Ayah dan Sebatang Galah
WAN MOHD ZUHDI BIN WAN ABD RAHMAN
zuhdi_islamiah@yahoo.com


Share:

Puisi - Perjalanan Mencari Kiambang


Dalam mengutus puisi demi puisi
Kehidupan hariku kian tandus
Menakung hasrat mencari erti
Mendamba kuntuman mekar kudus
Menyingkir kosongan esok lusaku

Maksud bukan mahuku segalanya
hanya kepastian bukan jangkaan semata

Mula langkahku ke pesisir pantai
Ditemani gemawan dan pepasir dipijak
Membelek kerikil disapu ombak
Kepupusan siang aku berarah lain 

Dihasut rasa di dalam hati
Langkahku lajuseakan pasti

Kiambang itu dipinggir kali

Penciptaku
Yang hina ini sepadu doa
Agar ia tiada terus berenggang
Izinkan aku mengikis jarak
Walaupun tangan terikat mati
Dekati kiambang yang kian layu
Menghembus nyawa mengusir sayu

Bayu singgah tika ku usaha
Jana bantu menepis lelah 
Putus asa bertempiaran digertak ikhlas

Tetapi
Sekira takdir tidak menghulur restu
Andai kiambangbukan untukku
Ku redha bertaut pasrah
cukup sekadar bertaut pasrah
cukup sekadar telah ku jumpa
Kiambang anggun yang dicita

Nukilan 
Elmi Zulkarnain



Share:

Puisi - Tika Hening Menghentak Jiwa Resah


Tika hening menghentak jiwa resah
gerangan apa mengocak jenjam sukma
menyendal tersumpal mengundang gundah 
mencengkam nadi membunga lara

tika hening menghentak jiwa resah 
ku harap biar alah diri ini membawa bungkam 
ke suatu arah yang tak kunjung
tika pangkalnya kian menjauh
tenggelam dek pandangan 
diselaputi kabus bergalas amanah
memberat lalu memasung tangan menjangkau

kiranya aku sudah lama faham 
akan ditarik songsang rasa itu
lalu ku kaut segala biar tersisip rapi
hingga menjadi untaian sejarah nan tak terlepas
ku pasak pada sudut paling diam
dalam sukma diri bagai ukiran terpahat mati



Share:

Puisi - Berapa Harga Sebuah Puisi


Entah bila
kita bisa menemukan harga
sebuah puisi dalam gelembung dan gelodak jiwa
kerna kita tidak mampu membaca isyarat Pencipta
kita buta dalam celik sirna mata yang sempurna.

Entah bila
Kita bisa memaknai harga
sebuah puisi ketika kita galak menanggalkan
celana persaudaraan dengan keserakahan dan air mata
mengirim keluh kesah bersama darah di pekat jiwa.

Entah bila
Kita bisa mengakrabi harga
sebuah puisi kiranya fikiran onar berjelaga
di kelip-kelip waktu pada wajah penderitaan
lupa lukiskan cinta di langit senja bawa pulang kebahagiaan.

Entah bila
Kita bisa meletakkan harga
sebuah puisi tika jasad mula longlai dan lelah
hanya pada sepi kita berkawan mengunci diri memeluk rasa
berselimut luka dan sembunyikan sebilah belati di bilik hati.

Entah bila
Kita bisa mengenal harga
sebuah puisi andai maruah semurah koin kata
melacurkan kesetiaan kepada munafik berbulu serigala
dalam diam melahap membaham bahasa bunda tanpa rasa dosa.

Aku temukan harga puisi
bila kuziarahi negeri air mata.
Kucatat kepingan duka
dalam senyap jerih dingin jiwa.
Dalam air mata
ada gumpalan maruah dan harapan
yang kunamakan harga sebuah puisi .

Wacana Minda
Tanah Rencong, 20 Mac 2016


Share:

Puisi - Jika Aku jatuh Cinta Lagi


Ya Allah , jika aku jatuh cinta lagi,
Cintakanlah  aku pada seorang yg
Melabuhkan  cintanya  padamu,
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu,
Ya Muhaimin,  jika aku jatuh cinta lagi,
Jagalah cintaku padamu,

Ya Allah ,jika aku jatuh cinta lagi
Izinkanlah  aku menyentuh hati sesaorang
Yang  hatinya bertaut pada mu.
Agar tidak terjatuh aku dlm jurang cinta duniawi,
Ya Rabbana, jika aku jatuh cinta lagi,
Jagalah  hatiku  padanya agar tidak
Berpaling pada hati Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku jatuh cinta lagi,
Rindukanlah  hatiku pada sesaorang yg
Merindui Syahid di jalan-Mu.
Ya Allah , jika aku jatuh cinta lagi,
Jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
Merindui Syurga -Mu.
Ya  Allah, jika  aku  menikmati cinta kekasih -Mu
Janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya
Bermunajat di sepertiga mlm terakhir -Mu.
Ya Allah , jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu
Jangan biarkan aku  tertatih dan terjatuh dlm
Perjalanan panjang menyeru manusia kpda -Mu

Ya Allah ,Engkau  mengetahui bahawa hati-hati ini telah
Berhimpun  dlm cinta pada -Mu
Telah  berjumpa pada ketaatan pada-Mu
Telah bersatu  dlm dakwah pada-Mu
Telah berpadu dlm membela Syariat-Mu
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya,
Kekalkanlah cintanya,
Tunjukilah jalan-jalannya
Jalan yg di restui oleh Mu
Penuhilah hati-hati ini dgn Nur-Mu
Yang tiada pudar,malah sentiasa bersinar
Lapangkanlah dada-dada aku dgn limpahan
Keimanan  dan  kesabaran
Kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu
Kepada-Mu aku berserah segala yg tersurat dan tersirat
Bila aku mencintai yg lain,mungkinkah hati ini akan tegar.
Sebisa  mungkin tak akan pernah sayangku akan hilang....
Padamu......Ya ALLAH Rabbul Jalil....

Nukilan HMA SKS
Sabtu
11 NOV 2017 23:11:11


Share:

Puisi - Titisan Hati

Pagi yang muram.
Ku telah ditemani oleh pelangi..
Ku lihat sejenak awan mendung berarak.
Mengapa bayangan mu masih ada di hatiku..
Ingin ku berlari meninggalkan memory ku.
Mengejar sesuatu yg belum pasti menjadi milikku.
Kata kata naif janji mu pegangan kita berdua..
Terlerai sudah di persimpangan perpisahan..
Maafkan diriku ini..
Andai aku bukan yg terbaik buatmu..
Ku tahu ku tak bisa menjadi seorang bidadari.
Ku tahu juga kamu bukan milikku..
Kerana hatiku telah terpateri menjadi hakiki insan lain..
Kerana kamu ..
Dingin malamku menjadi hangat..
Tiada lagi bintang di langit mampu ku petik.
Untuk ku dendangkan lagu yg tercipta..
Hadirmu sebagai suatu persinggahan sementara..
Menanti untuk di sakiti dan di tinggalkan..
Tiada guna air mataku..
Terus mengalir.
Harapan yang suci.
Menjadi kaku.
Jika ini ceriteranya,
Tidak mungkin aku menerima mu.
Dalam hidup ku.
Janji cintaku sampai syurga..
Abadiku bersama mu bidadari..
Tetapi adakah benar sampai ku bertanya,
Mengapa jiwa yang suci sering di sakiti..
Mungkin ini memang takdirku..
Mengharap mu mengetuk sanubariku..
Mengetuk benak diri nie tanpa di sedari..
Meninggalkan ku jua tanpa kerelaan hati..
Pergilah dikau dari jiwaku.,
Rindu ku padamu umpama bulan retak seribu..
Ku harap kau bertemu pengganti diriku ini..
Moga kau terus melupakan daku buat selama lamanya....

Nukilan Tun Teja
SKS
Isnin 25 Sept 2017 21:15:15


Share:

Puisi Terakhir WS Rendra

Hidup itu seperti WAP, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !!
Ketika Orang memuji MILIKKU
aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.
Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA ...
Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?
UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku.
Dan kalau bukan milikku,
apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?
Malahan ketika diminta kembali,
Kusebut itu MUSIBAH,
Kusebut itu UJIAN,
Kusebut itu PETAKA,
Kusebut itu apa saja ...
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA....
Ketika aku berdo'a,
kuminta titipan yang cocok dengan
KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,
Dan kutolak SAKIT,
Kutolak KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.
Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA,
harus berjalan seperti penyelesaian matematika
dan sesuai dengan kehendakku.
Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku ...
Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah Mitra Dagang ku
dan bukan sebagai Kekasih!
Kuminta DIA membalas perlakuan baikku
dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku ...
Duh ALLAH ...
Padahal setiap hari kuucapkan,
Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH ...
Mulai hari ini,
ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur
dalam setiap keadaan
dan menjadi bijaksana,
mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH ...
Sebab aku yakin
ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku ...
KEHENDAKMU adalah yang terBAIK bagiku ..
Ketika aku ingin hidup KAYA,
aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri
adalah sebuah KEKAYAAN.
Ketika aku berat untuk MEMBERI,
aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki
juga adalah PEMBERIAN.
Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT,
aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN,
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.
Ketika aku takut Rugi,
Aku lupa,
bahwa HIDUPKU adalah
sebuah KEBERUNTUNGAN,
kerana AnugerahNYA.
Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu BERSYUKUR kepadaNYA
Bukan karena hari ini INDAH
kita BAHAGIA.
Tetapi karena kita BAHAGIA,
maka hari ini menjadi INDAH.
Bukan karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS.
Tetapi karena kita optimis, RINTANGAN akan menjadi tak terasa.
Bukan karena MUDAH kita YAKIN BISA.
Tetapi karena kita YAKIN BISA.!
semuanya menjadi MUDAH.
Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM.
Tetapi karena kita TERSENYUM, maka semua menjadi BAIK,
Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.
Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar,
cukuplah menjadi JALAN SETAPAK yang dapat dilalui orang.
Bila kita tidak dapat menjadi matahari,
cukuplah menjadi LENTERA yang dapat menerangi sekitar kita.
Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang,
maka BERDOALAH untuk kebaikan


Share:

Puisi - Maafkan Aku Hanya Bisa MemandangMu

Memandangmu
Di rumah yang sangat sederhana
Terpana aku
Melihat kentalnya
Kamu meneniti ujian
Berat mata memandang
Berat lagi pundak memikul

Memandang
Raut wajahmu yang lesu
Suaramu jelas
Menceritakan
Hari-hari dalam hidupmu
Lenganmu yang luka
Serta kakimu
Bengkak kehitaman
Sesekali
Ku lihat airmatamu
Bergenang menahan sakit

Memandang
Usiamu yang muda
Seharusnya
Tempatmu di depan
Dalam medan perjuangan
Serentak dengan
Derap langkah
Menentang arus
Pembangunan nusa dan bangsa

Dan aku
Hanya bisa memandangmu
Dalam diamku
Dalam segala rasaku
Tanpa kata-kata
Beruntunglah kamu
Bunga yang disunting
Setia berada di sisi
Moga kekal hingga ke firdausi

Hujung waktu pertemuan
Ku rangkul tubuhmu
Yang kurus
Sambil ku bisikan
Dan maafkan aku
Kerana aku hanya mampu
Memandangmu

23 Jan 2018


Share:

Puisi - Kau bencilah aku


kubisikkan kau sesuatu
perihal suara yang senyap malam
pada telinga-telinga daun enggan gugur
dan daripadanya, aku mengecup laut

bukan hari yang kau racik dalam pita tawa
menyelamatkan duka dengan sehelai air mata
sedang aku, adalah ribuan senja
menawar lukaku dengan senyuman
serta gelak tawa

Kau bencilah aku
mendung di kepalaku tak serupa milikmu
Kau bencilah aku
kata-kataku tak selalu menuju pintu
Kau bencilah aku
anak-anak sungai yang mengalir di mataku
tidak selalu tahu ke mana mereka kan menuju

bukan angan yang ku peluk
ketika doaku tak lepas dari sajadah
yang menjadikan nyata cinta bukan sekadar pertemuan dada yang tak berjarak
adalah apa-apa yang kerap luput dari mata
dan dengarlah aku dengan suara malam paling bisu
ketika keikhlasan menjadikanku insan tabah
yang kerap menahan jarum di dadaku
namun cemasmu, mengikat langkahku yang tumpah
menjadikan mati rasaku kian berkuasa

engkau kan menjelma serupa awan 
pada pelangi yang kulukis terang
dan aku kan dengar bumi mengecup pekat
tanpa suara, ku bahasakan duka dalam gambar beraksara
yang melanjutkan fajar tertutup malam

Kau bencilah aku,
sebab pada gerimis ke seribu
hatiku tak juga layu
Kau bencilah aku,
pada ingatan yang tak mampu lagi mengingat sendu
sedang aku menjahit cahaya di antara sujudku

maka Kau bencilah aku semaumu,
untuk doa-doa yang menguatkan kakiku
Laju, bukan pada makna bahagiamu
ialah pada rahim kepercayaanNya
segalaku bersimpuh

namun jangan kau pernah membenciku
sebab aku menjadi bukan siapa-siapa,
selain menjadi aku

26 March 2018 


Share:

Puisi - Cinta Terpendam Rahsia

Ilham puisi ini terhasil daripada permintaan seorang kawan yang katanya meletakkan hati kepada seseorang. Namun perasaan malu menebal tidak mampu beliau lontarkan kepadanya. Kekal sampai saat ini memendamkan rasa walaupun acapkali berjumpa di persekitaran kerja. Bagi tidak menghampakan beliau saya ilhamkan puisi dengan menyelami apa yang dirasainya. Saya kongsikan di sini untuk tatapan

Haruskah
ku lontarkan suaraku
agar kau dengar isi hatiku
biar kau fahami
perasaan ku yang membara

Haruskah
aku dendangkan cintaku
Biar kau dengar suara hatiku
atau aku lukis rasa sayangku
Hingga dapat
kau lihat ketulusanku

Haruskah
ku tulis semua kerinduanku
bait-bait kata cinta
dan rintihan hati
Agar kau mengerti
Betapa aku menantimu
dalam setiap hela nafas
dan deraian airmata
yang mengalir di pipiku

Selembar doa
ku layangkan padamu
mengharap kau tetap di sampingku
menemani ruang lingkup hidupku
Meski aku tahu
Tak mampu aku memilikimu

Hanya nukilan guritan rasa
Ku aturkan segenap hasrat
Yang kupendam
dalam puncak asmara
Tidakkan hilang
dalam hitungan masa

Letih hati ini
merintih menahan lirih
sekeras usahaku mengingatimu
biarpun hanya bagai buih di lautan
sebagai bukti cintaku untukmu

Jika tuhan mngizinkan
Izinkan aku menyayangimu
dalam derai tawa
Dalam tangis air mata
Dalam cinta yang terpendam rahsia

Share:

Puisi - Damailah Anak Syurga

Semalam,
Engkau dan gurumu senyum gembira,
Lalui hidup tanpa resah gelisah,
Tiap harimu ulang benda yang sama,
Tiap masamu penuh dengan cinta,
Membaca Kitab Mulia,
Menghafal Kalam Pencipta,
Mengamal Sunnah KekasihNya,
Makan dan tidurmu ditemani sinar cahaya,

Begitulah rutin harian mingguanmu.
Tiba masa engkau pulang ke desa,
Jumpa adik, kakak, ayah dan bonda,
Kalian kongsi banyak cerita,
Kalian gembira ramai kawan di sana,

Sempat kalian kata pada bonda,
"Tidak terbalas budimu, hanya ingin jadi tahfiz di usia muda,
pegang tangan menuju sama ke Syurga."
Anakku insan pilihan,
Bila mana kami sibuk dengan dunia,
Cari wang, pangkat dan kuasa,
Engkau setia segak berjubah putih, serban di kepala,
Tanganmu erat memegang mukjizat istimewa,
Bibirmu terucap bait-bait indah belaka.
Sungguh dikau pilihan terbaik, insan istimewa.

Semalam,
Kita tidak kenal dan tak pernah bersua,
Pagi tadi,
Kita bagai saudara dekat selalu bersama,
Tika mana kami lena dibuai mimpi,
Engkau bergelut diuji,
Menjerit pinta pertolongan,
Tapi sayang tangan kami tak sampai,
Alangkah berdosanya diri ini.

Sesungguhnya,
Hati ini sayu melihat potretmu itu,
Suci, bersih bersulam senyuman manis,
Hati ini menangis mengenangkanmu,
Pemergiaanmu ditangisi ramai manusia,
Hilanglah butir-butir permata dalam dunia,
Bumi dan langit pun seolah turut berdukacita,
Rebah si ibu, jatuh si ayah,
Kakak dan adik terkelu lidah,
Anakku yang dulu selalu bergurau,
Kini bermain di Syurga Ilahi..

Anakku,
Doa kami sentiasa iringi,
Satu perlu engkau tahu,
Pergimu amat dirindui,
Andai ada ruang di sana,
Pilihlah kami menjadi temanmu nanti,
Berehatlah, tidur dengan lena,
Damailah wahai anak Syurga.
Al-Fatihah.

Sept 2017





Share:

Puisi - Aku akan pergi tak lama lagi

Aku akan pergi tak lama lagi

Bangsa yang merdeka
Bangsa yang mulia
Sekarang sanggup menjual hak yang sedikit
Hak memilih, hak mengundi
Untuk mendapat kesenangan
tanpa usaha
Kesenangan yang sedikit
Maruah dijual
bangsa dijual
Tanahair dijual
Segalanya dijual
Untuk nikmat yang tidak kekal
Nikmat yang sementara yang sedikit sahaja
Politik yang menyelamat
Menjadi politik yang menghancur
Pemimpin semakin tamak
Untuk tempat dan kedudukan tinggi
Perbuatan yang haram dihalalkan
Nama Allah diperalatkan
dijual untuk nikmat yang sementara di dunia
Akan kembalikah bangsaku ?
Menjadi bangsa dijajah, dihina dan diperhamba
Wahai bangsaku
Begitu mudahkah kamulupa
Aku akan pergi tak lama lagi
Dapatkah aku pejam mata dan hembus nafas terakhir
Kerana bangsaku
Negaraku
Masih mulia
Masih bermaruah
Masih dipandang tinggi
Atau mataku terbeliak
Nafasku tersesak terhenti
Kerana segala yang diperjuangkan luput ditelan nafsu
Ya Allah lindungilah bangsaku
Sedarkanlah mereka
Sedarkan mereka bahawa
Engkau tidak akan mengubah nasib bangsa
Melainkan bangsa itu cuba mengubahnya
Mengubah sendiri, membendung nafsu
Kerana Allah
Kerana Agama
Kerana Bangsa
Kerana Negara
Biarkan aku pergi
Mata terpejam rapat
Nafas perlahan berhenti

Dr Mahathir bin Mohamad
10 Julai 2015


Share:

Puisi - Untuk Dia berhati Walang

Khas untuk dia yang berhati walang

Terdengar gemersik rawan irama lagu
Entah siapa gerangan berhati walang
Nak dipujuk curiga kan membumbung pilu
Andai lafaz tidak semanis gula
nanti mencetus kacau menambah gelora
Gerun kerliru kian lasat rintihan nan membusung
lara yang tiada terawat dek ikhtiar manusia
Ampuhkanlah jiwa nan meratap padanya
Hakikat hidup ini di bawah kudratnya

Hayat ini punya riwayat terpencil
Analogi yang menjadi kiasan dalam mencari makna
Tentang harkat warga diri
Insani yang terpasak kemelut yang runyam luput
Mewarnai lorong musafir di bumi fana ini
Untuk ditakwil lali ditafsir buat mengungkap rasa syukur

Tanyakan pada diri
Empunya siapa sekujur tubuh ?
Mungkin kan kembali tersenyum jiwa nan lara
Astaka rela mintalah terbangun
Nah ! tiba detiknya kian ulet berdepan rencam dunia hidup

Namun bukan semudah bicara lalui segala
Seberat mata memandang berat lagi sang bahu memikul

karya Rozai Aznizah
http://penulisankarya-rozai.blogspot.com


Share:

Puisi - Seorang Ayah Sebatang Galah

kau seperti biasa
setelah cerah tanah lewat silau menyimbah
sedang langit menguntum kuning
perut kau telah pun dialas

kerana kau punya satu tugas
yang sudah lama kau galas
demi zuriat kau yang berbelas

kau memang cekal dan lantang
jasad kau berperang
urat leher kau timbul, tegang dan mengerang
kau seperti memikul beban
tapi,
tapi wajahmu dibasahi air tenang

rasa seperti peri lelah kau terpercik
terpercik ke dalam anak mataku
namun kau tetap begitu
terpacak, terpaku dan menahan jasadmu
tubuh kau menapak dan menongkat
kadang helai-helai hijau itu terselak
silau cahaya bola besar
menikam tajam anak matamu
berpinar tapi kau tegar

kau dongak lagi
pedih sekejap.
tapi kau terus berjuang tanpa peduli
bahu kau pasang gagah
tangan kau genggam kemas
demi sesisip rezeki
demi perut-perut yang lapar

tiba-tiba seperti biasa
genggaman kau pecah
jari-jari tangan kau lemah
galah hinamu rebah
menyembah kalah
kau tidak sekali mengalah
kau bernafas dalam penat dan lelah
kini diri kau penuh lopak-lopak sejarah
sebati nan likat dalam daging dan darah
seorang ayah dan sebatang galah

Seorang Ayah dan Sebatang Galah
WAN MOHD ZUHDI BIN WAN ABD RAHMAN
zuhdi_islamiah@yahoo.com


Share:

Puisi - Gaza, bumimu tak pernah tenang

Di Antara Gaza dan Kita

Di sana.. di Gaza,
bumi gersangnya sedang rakus
diratah Yahudi,
Peluru turun menghembur,
bagaikan bertih ditabur.
Rakyatnya diheret jadi penonton
pembunuhan ,penyembelihan beramai-ramai
Hinggakan darah menganak sungai..

Kecil besar tua dan muda,
sudah tak ada beza,
anak-anak di pangkuan,
Ibu-ibu merangkak mencari perlindungan..
Larilah mereka bertempiaran
Ada yang kakinya sudah hancur,
ada jasad yang berterabur,
Di mana hendak dicari tempat berteduh?
di mana gerangan hendak tidur,
apabila mentari berlabuh ?

Maka menadahlah tangan,
anak-anak di persimpangan..
yang dipaksa menjadi yatim piatu,
Ibu-ibu menangis, meratap pilu,
kehilangan suami... menjadi balu

Emas sudah murah harganya,
daripada sebuku roti GARDENIA..

Sampai bilakah akan berlarutan derita ini?
akan jadikah mereka,
Bangsa tanpa negara..
sesudah dirampas hak abadi
mengemis ,merintih di negara sendiri.

"Peduli apa" kata kuasa besar,
mereka riang tersenyum lebar,
Rundingan dibuat juga,
tapi tetap tinggal ditakuk lama..

Dari dulu lagi
pemimpin silih berganti,
Dari Kennedy,Johnson
terus ke Nixon
kemudian Ford ,Carter dan Reagan,
Geoge Bush juga tidak kesampaian,
semua rundingan terlalu hampa,
Clinton dan Bush anaknya,
kini sehingga sampai sudah senja,
Kuasa Obama
tiada nampak sudahnya
Palestin terus ditindas selama-lama

Duhai bangsaku ..warga Malaysia
bangunlah daripada tidur lena
Jangan bercakaran sesama sendiri
jangan sampai negara MERDEKA ini
tiada kebebasan lagi
keamanan yang dikecapi
bukan barang dagangan
yang boleh dijual beli..
Janganah nanti,
Di kepuk padi mati kelaparan,
Di kolam sendiri mati kehausan..

DASIMA...31 Ogos


Share:

Puisi - Ucap

Telah lama ku diam di sebalik aksara yang tersimpan
butir-butir kata jadi lerai
hanya bias ucap
kamar hati yang senyap
tanpa suara namun mataku berbicara
kalaulah kau bisa mengerti
pada suara yang tersusup di sini

Angsana yang merelai
tak sempat jemariku menadah
hanya renung dalam senyum yang terkumpul
elus semilir bayu
lembutnya menggugur juta gugus
ingatan yang tertunggak
dan kenangan yang tersimpul

Biarlah bibirku jadi bisu
di antara kehadiran kata-katamu
yang luruh di ujung suara
yang kau guruhkan
segenap ucapan
dan akan tetap kusimpan di perdu masa
setiap payal yang kau torehkan
di sini

...dyza ainun...
Share:

Puisi - Diam

Tika diam menghimpun kata
ku belek bicaranya dalam senyap
sedang matanya berbicara membilang suara
yang tersusup
di celah kerdipan

Bahasa diam itu
seakan menghulurkan aku juta kata
sukar untuk ku telah
Suara apakah yang terdampar
di celah matanya
yang bundar dan kuyu

Perlahan dan sopan
ku belek diari hatinya yang terbuka
di antara celik pejam
detik yang merangkak
meniti hari
Share:

Puisi - Setitis

Jatuh setitis di pelipis
Lakrima ini ku kutip dari celah kata
yang bergaris juntai
ucap bibir yang terkedu

Aku tidak pernah  menangis
hanya titis jernih yang merelai
berbingkai lembut
di penjuru mata
saljukah itu?
Biarkan mutiara  itu mengalir lembut
membilangi wajah luka dari persada hidup
dan ruang yang payal
segenap sanggar
 

Siapakah yang bakal mengutip
lalu menghimpun titis  jernih ini
dari lafaz hiba sejurai hati
Seorang aku
yang tertanggal dari segala reba
senyum yang hlang
dari ulas bibir

Menjadi kerongsang bersulam sendu
berpanjangankah ia?
melarik payah yang ngilu...
Share:

Total Pageviews

Labels

Teman Blog

Pengikut